Sabtu, 23 April 2011

skripsi ekstrakurikuler


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu sektor yang paling penting dalam pembangunan nasiona, karma pendidikan ialah kegiatan yang di lakukan dalam rangka mengembangkan potensi yang dimiiki peserta didik dengan hareapan supaya menjadi manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasiona yang tercantum dalam pasal 3 ayat 1 Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UUSPN, 2003: 5-6).

Pendidikan sebagai salah satu kekuatan dinamis dalam kehidupan setiap individu yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia. Hal ini sejalan dengan pendapat A. Tafsir (2005: 26), pendidikan adalah pengembangan pribadi dalam semua aspek dengan penjelasan bahwa, yang dimaksud pengembangan peribadi ialah yang mencakup pendidikan oleh diri sendiri, oleh lingkungan dan pendidikan oleh orang lain (guru) secara seluruh aspek yang mencakup jasmani, akal dan hati.
Denagn demikian proses pendidikan merupakan salah satu pribadi yang utuh dengan keunggulan secara berimbang dalam aspek sepritual, sosial, intelektual dan emosional. Pendidikan mempersiapkan peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan hidup secara seimbang antara kehidupan pribadi dan masyarakat, sebagaimana yang dikemukakan oleh Nana Sudjana (1989:15) bahwa tugas pendidikan ialah memberi bantuan kepada siswa dalam pemecahan masalah yang dihadapinya. Dalam hal ini siswalah yang beraktivitas, berbuat dan aktif sendiri, lebih dari itu, ia mengatakan bahwa dalam belajar sangat di perlukan keaktifan beajar.
Dalam pelaksanaannya peruses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok (Ramayulis, 2008: 65). Ini berarti berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan tujuan pendidikan bergantung kepada bagaimana proses beajar yang dialami oleh murid sebagai peserta didik (Abu Ahmadi, 1991: 118).
Dalam pelaksanaan aktivitas siswa di sekolah tidak hanya belajar formal saja akan tetapi ada satu kegiatan yang kegiatan yaitu kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ini meruakan kegiatan yang diselenggarakan diuar jam pelajaran yang tercantum dalam program sesuai dengan keadaan dan kebutuhan sekolah.
Sehubungan dengan kegiatan siswa yang di lakukan di luar sekolah, pada dasarnya untuk melengkapi dan menambah pengetahuan dan keterampilan mereka, berkenaan dengan kegiatan kurikuler yang diterima di sekolah pada jam-jam pelajaran formal. Untuk mengambangkan potensi anak dari segi intelektual keislaman dan dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah SAW, maka pihak sekolah SMP Negeri 2 banjaran mengadakan kegiatan ekstrakurikuler keagamaan yang menjadikan seluruh siswa dan siswi kelas VII sampai dengan IX bisa memilih untuk menjadi anggota dan ekstrakulikuler keagamaan juga sebagai pendukung dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah.
Kegiatan ekstrakurikuler keagamaan ini merupakan salah satu realisasi dari proses beajar mengajar yang menuntut adanya keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, baik di jam peajaran sekolah maupun di luar jam pelajaran sekolah, sehingga diharapkan mereka dapat meraih prestasi belajar setinggi-tingginya.
Berdasarkan studi pendahuluan, kegiatan ekstrakurikuler keagamaan yang diadakan pihak sekolah SMP Negeri 2 Banjaran, ternyata sangat mendukung sekali terhadap mata pelajaran pendidikan Agama Isam, baik materi yang bersangkutan dengan materi PAI yang mencakup aspek keimanan, akhak dan lain sebagainya.
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam ekstrakurikuler keagamaan antaralain: pemberian materi tentang tauhid (keyakinan), fikih, muamalah, pembinaan akhlak, tafsir, baca tulis Al-qur’an, nasyd, tilawah, pidato,  manajemen keorganisasian dan keterampilan praktis lainnya, yang biasanya dilaksanakan setiap duakali dalam seminggu yaitu pada hari Rabu dan sabtu. Untuk hari rabu di hususkan unuk latihan nasyid, pidato, dan tilawah dan hari sabtu krgiatannya BTQ (Baca Tuis Qura’n) untuk kelas VII, Hapalan buat kelas VIII, Tafsir unuk kelas IX, dan juga di teruskan dengan latihan Nasyid, Pidato dan Tiaeah. Dalam hari satu bulan ekstrakurikuler keagamaan mengadakan TABALIS (Tablig Santri LISTUAL) yang mana acaranya meliputi nasyid, tilawah atau pembacaan ayat suci al-qur’an dan ceramah, semua itu yang mempunyai peranan santri itu sendiri/anggota.
Disamping itu, ekstrakurikuler keagamaan juga mengadakan acara yang bersifat insidental, seperti memperingati hari besar islam (PHBI). Hal ini merupakan salah satu usaha pihak pelatih untuk menumbuh kembangkan minat dan motivasi siswa mengikuti kegiatan tersebut, dalam kegiatan ini ada empat ha yang mendasar untuk dikembangkan yaitu, pendekatan diri kepada allah SWT, keterampilan membaca ayat suci Al-qur’an, meningkatkan daya pikr sehingga menyadarkan untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya, dan belajar berorganisasi.
Dari gambaran di atas, ditemukan fenomena faktual yang menarik untuk di analisis lebih lanjut. Meskipun kegiatan ekstrakurikuler sudah dikelola dengan baik serta meberikan rangsangan positif terhadap siswa untuk lebih optimal dalam menuntut ilmu dengan penuh kesadaran, agar membentuk manusia yang berpengetahuan luas dan berakhlakul karimah, namun di sisi lain terbukti masih ada siswa anggota ekstrakurikuler keagamaan yang kurang berperestasi pada bidang studi PAI. Hal ini menunjukan adanya  kesejangan, antara aktivias siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler keagamaan dengan prestasi maka pada bidang studi PAI. Kondisi demikian merupakan fenomena yang menimbulkan tanda tanya besar, sekaligus menjadi problematika yang memerlukan penelitian lebih lanjut.
Dari fenomena diatas, memunculkan permasalahan yang perlu dikaji lebih dalam, yaitu bagaimana hubungan antara siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler keagamaan di sekolah dengan presatasi mereka pada bidang studi PAI di kelas. Untuk merealisasikan mesalah tersebut, penulis mengangkat kedalam penelitian yang berjudu: “AKTIVITAS DALAM KEGIATAN EKSTRAKURIKULER KEAGAMAAN HUBUNGANNYA DENGAN MOTIVASI BELAJAR MEREKA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM.” (penelitian di kelas 7 SMP Negeri 2 Banjaran)
B.     Perumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka masalah yang timbul sebagai berikut:
1.            Bagaimana aktivitas siswa tentang ekstrakurikuler keagamaan dan pengembangan diri di SMP Negeri 2 Banjaran?
2.            Bagaimana realitas motivasi balajar siswa kelas 7 SMP Negeri 2 Banjaran dalam mengikuti mata pelajaran Pendidikan Agama Islam?
3.            Bangaimana hubungan aktivitas siswa kelas 7 SMP Negeri 2 Banjaran terhadap ekstrakurikuer keagamaan dan pengambangan diri dengan motivasi belajar mereka dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam?
C.    Tujuan Masalah
Rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.            Untuk mengetahui aktivitas siswa daam kegiatan ekstrakurikuer keagamaan dan pengembangan diri yang ada di SMP Negeri 2 Banjaran.
2.            Untuk mengetahui data realitas motivasi belajar siswa kelas 7 SMP Negari 2 Banjaran dalam mangikuti peajaran Pendidikan Agama Islam.
3.            Untuk mengetahui data tentang hubungan antara aktivitas siswa kelas 7 SMP Negeri 2 Banjaran dengan motivasi belajar mereka dalam mata peajaran Pendidikan Agama Islam.
D.    Kerangka Pemikiran.
Aktivitas berasal dari bahasa inggris yaitu kata activity yang berarti kegiatan (Jhon M. Echols dan Hassan Shadily, 2003:10). Menurut kamus ilmiah popular lengkap (pius Abdillah p.:13) aktivitas diartikan kegiatan dan keaktifan. Jadi dapat dipahami bahwa aktivitas adalah kegiatan kerja atau kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan.
Dapat diartikan juga bahwa aktivitas manusia bukan hanya dimaksud aktivitas jasmani saja, melainkan juga aktivitas rohani, dan keduanya harus dihubungkan (Nasution 1998: 89). Dengan demikian aktivitas adalah suatu kegiatan yang bersipat jasmani dan rohani, dimana keduanya saling berkaitan. Aktivitas yang dilakukan secara berulang-ulang maka akan memberikan pengaruh besar pada hasil belajar seseorang. Ketika seseorang dalam posisi mengerti dan paham terhadap ilmu yang ia peroleh, maka ia akan melakukan sesuatu berdasarkan hal yang telah ia ketahui dan pahami. Seorang siswa yang tahu pengetahuan agama sudah tentu akan lebih rajin beribadah dan dalam nilai pelajaran  Pendidikan Agama islam juga akan memuaskan.
Motivasi menurut Muhibbin Syah (2000: 136) yaitu keadaan mental organisme baik manusia maupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Oleh karena itu, motivasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu motivasi instrinsik dan ekstrinsik, motivasi instrinsik ialah motivasi yang berasal dari diri siswa sendiri. Termasuk dalam motivasi ekstrinsik adalah perasaan menyenangi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, perasaan menyenangi pelajaran Pendidikan Agama Islam dihasilkan dari kesan siswa yang positif terhadap materi dari program kegiatan ekstrakurikuler keagamaan.
Mengingat materi pelajaran ekstrakurikuler keagamaan adalah bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Dihubungkan dengan adanya kesan positif terhadap pelaksanaan kegiatan ekstrakulrikuler keagamaan maka siswa akan termotivasi untuk mengikuti pelajaran yang ada di kelas terutama pelajaran Pendidikan Agama Islam yang disajikan oleh sekolah. Dengan melihat alur pemikiran tersebut, jelaslah secara teoritis dapat dijadikan acuan bahwa besar kecilnya siswa untuk mengikuti mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, salah satunya ditentukan oleh aktivitas siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler keagamaan.
Dari kajian teoretis tersebut dapat dipermasalahkan, apakah motivasi belajar siswa dalam mengikuti mata pelajaran Pendidikan Agama Islam ada hubungannya dengan aktivitas mereka dalam kegiatan ekstrakurikuler keagamaan? Jika diterapkan pada khusus kelas 7 SMP Negeri 2 Banjaran. Untuk menjawab permasalahan tersebut, ditetapkan indicator-ondikator kedua variabel. Sebagaimana telah diungkapkan diatas bahwa penelitian memuat dua variabel, yaitu aktivitas siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler keagamaan dan variabel motivasi belajar siswa pada pelajaran Pendidikan Agama islam.
Indikator-indikator untuk variabel aktivitas siswa dalam kegiatan ekstrakulikuler keagamaan terdiri dari: membaca, bertanya, mendengarkan, mencatat, mengingat atau berfikir, latihan atau praktek. Adapun indicator-indikator untuk variabel motivasi belajar siswa pada pelajaran Pendidikan Agama Islam. Sebagaimana yang dirumuskan oleh Abu Syamsudin (1999: 30) sebagai berikut:
1.       Durasi kegiatannya (berapa lama kemampuan penggunaan waktunya untuk melakukan kegiatan).
2.       Frekuensi kegiatan (berapa sering kegiatan dilakukan dalam periode waktu tertentu).
3.       Persistensi (ketetapan dan kelayakannya) pada tujuan kegiatan.
4.       Ketabahan, keuletan dan kemampuannya dalam menghadapi rintangan dan kesulitan untuk mencapai tujuan.
5.       Devosi (pengabdian) dan pengorbanan (uang, tenaga, pikiran bahkan jiwa atau nyawanya) untuk mencapai tujuan.
6.       Tingkatkan aspirasinya (maksud, rencana, sasaran, atau target dan idolanya) yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan.
7.       Tingkat kualifikasi prestasi yang dicapai dari kegiatannya.
8.       Arah sikapnya terhadap sasaran kegiatan (like or dislike, positif atau negatif).
Uraian kerangka pemikiran yang menjadi titik tolak penelitian ini dapat di gambarkan dalam bentuk sekema sebagai berikut:































A.    Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian adalah sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian (Sugiyono, 1997:84) Suharsimi Arikunto 1993:63) mengemukakan bahwa hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasa-lahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Permasalahan yang akan diteliti adalah aktivitas siswa dalam kegiatan ekstrakurikuer keagamaan dengan motivasi siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam. Oleh karena itu penalitian ini akan dipusatkan pada dua variabel yaitu, aktipitas siswa dalam kegiatan ekstrakulikuler keagamaan sebagai variabel X, dan mitivasi siswa pada bidang studi pendidikan agama islam sebagai paryabel Y.
Dari uraian diatas dapat ditarik asumsi bahwa motivasi belajar siswa terhadap bidang studi Pendidikan Agama Islam dipengaruhi oleh persepsi mereka pada ekstrakurikuler keagamaan di skolah. Maka penelitian ini bertolak dari hipotesis: semakin baik aktivitas siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler keagamaan maka semakin baik pula motivasi mereka terhadap bidang studi Pendidikan Agama Islam.
Untuk menguji hipotesis di atas maka dirumuskan.
(Ho) tidak ada hubungan positif antara kepedulian siswa terhadap ekstrakulikuler keagamaan dengan motivasi mereka pada bidang studi Pendidikan Agama Islam.
(Ha) terdapat hubungan positif antara kepedulian siswa terhadap ekstrakulikuler keagamaan dengan motivasi mereka pada bidang studi Pendidikan Agama Islam.
Secara statistik hipotesis tersebut adalah:
Ho:= 0
Ha:> 0
Signifikansi korelasi tersebut diuji dengan menggunakan uji t yaitu dengan cara membandingkan antara t hitung dengan t tabel pada taraf signifikansi = 0,95 (95%)

B.     Langkah-langkah Penelitian
Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini meliputi: menentukan jenis data, sumber data, metode dan teknik pengumpulan data, serta analisis data. Untuk lebih jelasnya penelitian tersebut akan diuraikan rinciannya secara ringkas.
1        Menentukan Jenis Data
Jenis data yang dikumpulkan dalam memecahkan permasalahan penelitian adalah data kualitatif dan kuantitatif tentang kepedulian siswa terhadap ekstrakulikuler keagamaan dengan motivasi mereka pada bidang studi Pendidikan Agama Isam. Untuk memperoleh data kualitatif dalam penelitian ini, akan dilakukan teknik observasi dan wawancara. Sedangkan untuk memperoleh data kuantitatif dilakukan melalui penyebaran angket dan hasilnya dianalisis dengan perhitungan statistik.
2        Menentukan Sumber Data
Adapun sumber data yang penulis gunakan adalah sumber data primer dan skunder. Sumber data primer yaitu sumber data yang diperoleh dari siswa kelas VII SMP Negeri 2 Banjaran. Sedangkan data skunder yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari kepala sekolah, guru-guru, dan staf sekolah. Sumber data secara umum dapat dibagi kedalam beberapa bagian, diantaranya adalah sebagai berikut
a.       Lokasi Penelitian
Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja, yaitu : di SMP Negeri 2 Banjaran.
b.      Populasi dan Sampel
Populasi dalam pelaksanaan penelitian sangat diperlukan untuk tekumpulnya data atau keterangan yang berguna dalam membuat atau mengambil kesimpulan suatu penelitian. Populasi merupakan sekelompok subjek, baik manusia maupun gejala, nilai test, benda-benda ataupun peristiwa (Winarno Surakhmad, 1975:93). Berdasarkan pengertian tersebut, maka sebagai populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 2 Banjaran, sebanyak 429 orang siswa.
Sampel sebagian dari populasi, untuk mewakili seluruh populasi (Winarno Surakhmad, 1975 : 93). Untuk menentukan sampel ini, penulis menggunakan sampel randum yaitu hanya 42 orang siswa. Sebagai dasar teorinya dapat dikemukakan yaitu teknik penarikan sampel sekedar ancer-ancer, apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semuanya, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subjeknya besar dapat diambil antara 10-15 % atau lebih (Suharsimi Arikunto, 2006:134). Berdasarkan pendapat di atas, dalam penelitian ini penulis mengambil sampel sebanyak 10% dari populasi, sehingga jumlah sampelnya adalah 429 X 10%=42,9 dibulatkan menjadi 42.
Tabel 1
Jumlah populasi dan sampel terhadap siswa kelas VII
SMP Negeri 2 Banjaran.
No
Kelas
Jenis
Jumlah popuasi
Pengambilan sampel
Jumlah sampel
L
P
1
VII A
27
21
48
10% x 48
5
2
VII B
26
22
48
10% x 48
5
3
VII C
26
22
48
10% x 48
5
4
VII D
25
23
48
10% x 48
5
5
VII E
28
20
48
10% x 48
5
6
VII F
27
20
47
10% x 47
4
7
VII G
27
20
47
10% x 47
4
TOTAL SAMPEL
42


3        Metode dan Teknik Penelitian
Untuk mengumpulkan data yang diteliti, maka ditetapkan metode penelitian dan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
a.       Metode penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif, yaitu metode yang tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang serta tertuju pada masalah yang aktual. Melalui penggunaan metode ini diharapkan diperoleh gambaran tentang kepedulian siswa terhadap ekstrakulikuler keagamaan yang ada di sekolah hubungannya dengan motivasi mereka pada bidang studi Pendidikan Agama Islam.
Disamping itu, penulis juga menggunakan metode penunjang yaitu studi literatur guna menganalisis penelitian. Studi literatur ini penulis lakukan melalui penelaahan berbagai sumber-sumber tertulis, seperti buku-buku yang berhubungan dengan penelitian.


b.      Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data yang diperlukan penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1)      Angket
Teknik ini dilaksanakan dengan memakai alat penelitian berupa daftar pertanyaan untuk memperoleh keterangan dari sejumlah responden. Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data tentang keaktivan siswa terhadap ekstrakulikuler keagamaan hubungannya dengan motivasi mereka pada bidang studi Pendidikan Agama Isam.
Jenis angket yang digunakan untuk mengangkat data kedua variabel tersebut diterapkan skala penilaian dengan lima alternatif jawaban dilihat dari teknik penyekorannya dari alternatif jawaban itu diuraikan mulai dari kemungkinan tertinggi sampai terendah pada pijak lain akan dipertimbangkan pula item angket yang berorientasi positif dan negatif. Untuk pertanyan positif tiap opsi a = 5, b = 4, c = 3, d = 2, e = 1. sedangkan untuk negatif setiap opsi memiliki nilai yang dibalik yaitu a = 1, b = 2, c = 3, d = 4, e = 5.
2)      Observasi
Observasi adalah pengumpulan data di mana penyelidik melakukan pengamatan secara langsung terhadap gejala-gejala subjek yang diselidiki, baik pengamatan itu dilakukan dalam situasi sebenarnya maupun dalam situasi yang khusus (Winarno Surakhmad, 1989: 162). Tehnik ini digunakan untuk memperoleh gambaran secara langsung tentang kondisi objektif di kelas 7 SMPN 2 Banjaran- Bandung.
3)      Wawancara
Penggunaan teknik ini ditujukan untuk mengetahui dan mengumpulkan data tentang kondisi objektif yang dijadikan objek penelitian. Disamping itu, untuk mengetahui keadaan responden serta hal-hal yang menunjang pada proses penelitian.
4)      Studi Kepustakan
Teknik ini digunakan untuk memperoleh informasi teoritis tentang kepedulian siswa terhadap ekstrakulikuler keagamaan hubungannya dengan motivasi mereka pada bidang studi Pendidikan Agama Islam.
Teknik ini dipilih kerena dapat menunjang dan memperkuat hasil penelitian, dipergunakan rujukan dan bahan-bahan yang ada hubungannya dengan hasil yang diteliti. Studi kepustakaan yang dimaksud di sini adalah mendayagunakan informasi yang terdapat dalam berbagai literatur untuk menggali konsep dasar yang ditemukan para ahli untuk membantu memecahkan masalah dalam penelitian ini.
4        Teknik Analisis Data
Setelah terkumpul, maka data diolah dengan menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang diperoleh dari angket, observasi, dan wawancara. Sedangkan untuk pendekatan kuantitatif digunakan analisis statistik.
Adapun langkah-langkah analisis statistik yang akan ditempuh adalah sebagai berikut:

a.       Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif adalah analisis yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum dan generalisasi. Dalam penelitian ini akan ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1)      Deskripsi rata-rata skor setiap indikator dari masing-masing variabel dengan menggunakan rumus:
                                                                  (Sudjana, 2002:67)
Keterangan:     = Rata-rata
                                = Jumlah skor setiap indikator variabel
                                     n = Jumlah responden
untuk menginterpretasikan tinggi rendahnya jawaban responden tiap variabel, maka disesuaikan dengan standar kualifikasi sebagai berikut:
4,5 – 5,5 = sangat tinggi
3,5 – 4,5 = tinggi
2,5 – 3,5 = cukup
1,5 – 2,5 = rendah
0,5 – 1,5 = sangat rendah                             (Suharsimi Arikunto,2006:253)
2)      Deskripsi tendensi sentral setiap variabel
Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut:
a)      Mengurutkan data hasil penelitian dari mulai yang terbesar sampai yang terkecil
b)      Menentukan rentang (R), dengan rumus:
R= H – L                                                                    (Sudjana, 2002:91)
c)      Menentukan banyaknya kelas interval dengan rumus:
K=1+3,3 log n                                                            (Sudjana, 2002:47)
d)     Menentukan panjang interval (P), dengan rumus:
                                                                          (Sudjana, 2002:67)
e)      Membuat distribusi dengan data mentah
f)       Uji Tendensi Sentral
(1) Mencari rata-rata (mean), denga rumus:
                                                           (Sudjana, 2002:70)
(2) Menentukan nilai median (Me), dengan rumus:
                                       (Sudjana, 2002:79)
(3) Menentukan modus (Mo), dengan rumus:
                                            (Sudjana, 2002:77)
g)      Pengukuran variasi kelompok
(1) Mencari standar deviasi (SD), dengan rumus:
(2) Mencari varians, dengan rumus:
                                    (Sudjana, 2002:95)
h)      Membuat tabel distribusi observasi dan ekspektasi
i)        Menginterpretasikan atau penafsiran Variabel X dan Y
Penafsiran tendensi sentral masing-masing varibel dengan catatan: jika data yang berdistribusi normal maka cukup rata-rata (meannya saja) untuk ditafsirkan, jika data tidak berdistribusi normal penafsirannya harus dilihat dari ketiga tendensi sentral (mean, median, modus). Dibagi oleh jumlah item soal dan hasilnya diinterpretasikan kepada skala lima:
4,5 – 5,5 : sangat tinggi
3,4 – 4,5 : tinggi
2,5 – 3,5 : cukup
1,5 – 2,5 : rendah
0,5 – 1,5 : sangat rendah
3)      Uji normalitas menggunakan rumus:
                                          (Sudjana, 2002:273)
a)      Menentukan derajat kebebasan (dk), dengan rumus:
dk = K-2
b)      Menentukan nilai X2 tabel dengan taraf signifikansi 5%.
c)      Pengujian normalitas dengan ketentuan:
-          Jika data X2 hitung < X2 daftar maka berdistribusi normal
-          Jika data X2 hitung > X2 daftar maka berdistribusi tidak normal
4)      Analisis Korelasi dan Regresi
Analisis korelasi dimaksudkan untuk mengetahui hubungan kedua variabel (variabel X dan variabel Y) dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a)      Menghitung persamaan regresi linier dengan rumus:
a + bX                       
                                                   (Sudjana, 2002:315)
b)      Menguji linieritas regresi, dengan langkah-langkah:
(1) Menghitung jumlah kuadrat regresi (Jka), dengan rumus:
                                                    (Sudjana, 2002:327)
(2) Menghitunh jumlah kuadrat regresi b terhadap a, dengan rumus:
                    (Sudjana, 2002:328)
(3) Menghitung jumlah kuadrat residu, dengan rumus:
                             (Sudjana, 2002:335)
(4) Menghitung jumlah kuadrat kekeliruan, dengan rumus:
                             (Sudjana, 2002:331)
(5) Menghitung derajat kebebasan kekeliruan, dengan rumus:
                                                        (Subana, 2000:163)
(6) Menghitung derajat kebebasan ketidakcocokan, dengan rumus:
                                                        (Subana, 2000:163)
(7) Menghitung jumlah kuadrat ketidakcocokan, dengan rumus:
                                              (Subana, 2000:163)
(8) Menghitung kuadrat rata-rata kekeliruan, dengan rumus:
                                                       (Subana, 2000:163)
(9) Menghitung nilai F ketidakcocokan, dengan rumus:
                                              (Subana, 2000:164)
(10)Menentukan nilai F tabel dengan taraf signifikasi 1%, dengan rumus:
F tabel = Fa (dbtc/dbkk)                                     (Subana, 2000:164)
Untuk menguji linieritas regresi dengan ketentuan:
-    Jika data X2 hitung < X2 daftar maka berdistribusi normal
-    Jika data X2 hitung > X2 daftar maka berdistribusi tidak normal
c)      Mencari Nilai Koefisien Korelasi
(1) Dikenal koefisien rank, yaitu: apabila kedua variabel berdistribusi normal dan regresi linier, maka digunakan rumus korelasi sebagai berikut:
          (Suharsimi Arikunto, 2002:243)
(2) Apabila salah satu atau kedua variabel berdistribusi tidak normal serta regresinya tidak linier maka digunakan metode statistik non parametrik dari Spermaen yang lazim.
                         (Suharsimi Arikunto, 2002:278)

d)     Uji Hipotesis (signifikansi koefisien korelasi)
Untuk menguji signifikansi koefisien korelasi digunakan tiga cara yaitu:
(1) Menghitung harga t, dengan rumus:
                                                           (Sudjana, 2002:377)
(2) Menghitung t tabel dengan taraf signifikansi 5% dengan derajat kebebasan dengan rumus: (dk = n-2)
(3) Membandingkan harga t hitung dengan harga t tabel, untuk menguji hipotesis dengan ketentuan:
-          Hipotesis diterima jika t hitung > t tabel
-          Hipotesis ditolak jika t hitung < t tabel
(4) Menghitung nilai t tabel dengan menerapkan taraf signifikan 5%
0,81-1,00 = korelasi sangat tinggi
0,61-0,80 = korelasi tinggi
0,41-0,60 = korelasi cukup
0,21-0,40 = korelasi rendah
0,00 – 0,20 = korelasi sangat rendah          (Sudjana, 2002:989-180)

(5) Menentukan kontribusi antara variabel X terhadap variabel Y, yang ditentukan dengan menggunakan koefesien determinasi (KD):
KD =  r2 . 100 %
                  Keterangan :
      KD = koefesien determinasi
      r     = koefesien korelasi                                        (Subana, 2000: 145)




















BAB II
ANALISIS TEORETIK TENTANG AKTIVITAS SISWA DALAM KEGIATAN  EKSTRAKURIKULER KEAGAMAAN HUBUNGANNYA DENGAN MOTIVASI BELAJAR MEREKA PADA MATA PELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM.

A.    Aktivitas Ekstrakurikuler Keagamaan
  1. Pengertian Aktivitas dalam Ekstrakurikuler Keagamaan.
Setiap induvidu pada dasarnya mempunyai keinginan untuk berkembang dan berubah untuk menjadi pribadi yang lebih maju dan sempurna. Hal tersebut terjadi tiada lain disebabkan karena adanya rasa ingin tahu yang timbul dan tumbuh dalam dirinya. Dan pada hakikatnya, semua gerak dan ekspresi yang dilakukan individu berbuat merupakan gambaran kongkret dari aktivitas.
Manusia mempunyai kebebasan untuk berbuat dan menentukan arah hidup sendiri, disinilah diperlukan aktivitas yang dilakukan manusia untuk mencapai semua itu. Tidak berbeda halnya dengan siswa sebagai subjek dalam proses belajar mengajar dan memerlukan berbagai aktivitas untuk meraih aktivitas yang maksimal. Yang dimaksud dengan aktivitas di sini adalah sesuatu reaksi yang timbul terhadap lingkungannya atau adanya aksi dari lingkungan.
Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa aktivitas adalah kegiatan, kesibukan, keaktivan (W.J.S Poerwadarmita, 1987: 26). Jadi adanya aktivitas biasanya ditandai dengan suatu kesibukan atau keramaian seperti aktivitas siswa di dalam kelas yang ramai dengan kegiatan tanya jawab anrata murid dengan guru.
Para ahli pendidikan mengemukakan akivitas sebagai berikut:
  1. Sardiman A.M (2008: 79) mengemukakan bahwa aktivitas merupakan kegiatan yang bersifat fisik jasmani maupun rohani.
  2. Menurut zakiah Daradjat (2001:137) kegiatan dapat di golongkan menjadi keaktifan jasmani dan rohani. Keaktifan jasmani ialah murid giat dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain-main atau pun bekerja.
  3. Nasution (2004:89) mengemukakan bahwa aktivias-aktivitas tidak hanya dimaksud aktivitas jasmani saja melainkan juga aktivitas rohani, dan kedua-duanya arus dihubungkan, menurut Piaget yang di kutip oleh Nasution seorang anak akan berfikir sepanjang ia akan berbuat, ia harus di beri agar berdiri.
Ekstrakurikuler berasal dari kata ekstra dan kurikuler. Ekstra berasal dari kata Extra (Inggris) yang artinya tambahan. Kurikuler berasal dari kata Curriculum (Inggris) yang artinya rencana pelajaran. Jika keduanya digabungkan "Ektrakurikuler" berarti di luar rencana pelajaran (W.J.S Poerwadarmita, 1987: 26). Jadi Ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran (tatap muka), baik dilaksanakan di sekolah maupun di luar sekolah, dengan maksud untuk lebih memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan yang telah dimilikinya dari berbagai bidang studi.
Dari beberapa pengertian aktivitas di atas, maka dapat di tarik kesimpulan bahwa aktivitas ekstrakurikuler keagamaan adalah suatu kegiatan atau kesibukan seseorang atau kelompok yang melibatkan dimensi fisik, psikis dan sosial dalam menciptakan suatu kesibukan guna mencapai tujuan yang diharapkan dan diadakannya di luar KBM (Kegiatan Belajar Mengajar), atau dengan kata lain aktivitas dalam kegiatan ekstrakurikuler itu adalah suatu kegiatan manusia secara keseluruhan dalam menciptakan sesuatu yang baru diadakan di luar KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Jika jenis-jenis kegiatan ini diterapkan dalam setiap situasi kegiatan ekstrakurikuler keagamaan, maka akivitas siswa itu akan dinamis dan tidak ada kesan membosankan serta akan membantu pada tercapainya ekstrakurikuler keagamaan itu sendiri.
  1. Jenis Aktivitas Ekstrakurikuler Keagamaan.
Ekstrakurikuler keagaan yang penuis teliti di SMP Negeri 2 Banjaran  bernama LISTUAL (lingkar Sudi Al-qur’an) disahkan pada tahun 2005, namun yang sebenarnya kegiatan ekstrakurikuler keagamaan itu ada sejak dari tahun 2000 namun masih ilegal/belum disahkan.
Jenis kegiatan yang diadakan di ekstrakurikuler keagamaan LISTUAL atau pengembangan diri LISTUAL (Lingkar Studi Al-Qur’an) ialah sebagai berikut:
Tabel II
Jadwal kegiatan pengembangan diri
Organisasi Lingkar Sudi A-Qur’an
SMP Negeri 2 Banjaran
No
Haril Kegiatan
Kegiatan
Waktu
1
Sabtu ke 1
1. Pengembangan diri.(perkelas)
09:30 sd 10:30
2. Nasyid, pidato dan Qiro.
10:30 sd 12:00
2
Sabtu ke 2
1. Pengembangan diri. (perkelas)    
09:30 sd 10:30
2. Nasyid, pidato dan Qiro.
10:30 sd 12:00
3
Sabtu ke 3
1. Pengembangan diri. (perkelas)   
09:30 sd 10:30
2. Nasyid, pidato dan Qiro.
10:30 sd 12:00
4
Sabtu ke 4
1. Tablig Santri LISTUAL  (TABSALIS)
09:30 sd 12:00
5
Setiap hari rabu
Latian Qiro, pidato dan Nasyid
12:30 sd 14:00
Dikarnakan ada peraturan dari Dinas Pendidikan tingkat kabupaten bahwa yang namanya ekstrakurikuler itu dihapus namanya dan diganti menjadi pengembangan diri, maka dari itu ekstrakurikuler keagaan yang ada di SMP Negeri 2 Banjaran disebut pengembangan diri LISTUAL
1.      Pengembangan diri LISTUAL dibagi tiga golongan dan durasi waktu hanya satu jam, kegiatannya yaitu:
a.             Kelas VII kegiatannya BTQ (Baca Tulis Qur’an).
b.            Kelas VIII kegiatannya hapalan
c.             Kelas IX kegiatannya terjemah
  1. Kegiatan setelah pengembangan diri.
            Kegiatan setelah pengembangan diri LISTUAL diteruskan dengan kegiatan yang lebih berguna untuk masa depan setiap anggota dan setiap anggota harus memilih dari tiga kegiatan yang ada di LISTUAL kegiatannya yaitu:
a.             Pidato,
b.            Tilawatil Qur’an(Qiro), dan
c.             Nasyid
Selain yang diatas ada lagi kegiatan LISTUAL yang lainnya, yang mana kegiatannya yaitu TABALIS (Tablig Santri LISTUAL). Dalam kegiatan ini anggota di tuntut untuk unjuk gigi atau menunjukan kebolehan. Yang mana acaranya pengajian, ada nasyid, pembacaan ayat suci Al-qur’an, dan pidato. Dikarnakan kegiatan ini kusus untuk seluruh anggota LISTUAL (Lingkar Studi Al-Qur’an) maka semua anggota pasti dapat giliran. Tidak lupa pula dalam TASALIS (Tablig Santri LISTUAL) ini ada yang namanya komentator, yang mana komentator ini dari kalangan guru PAI (Pendidikan Agama Islam) dan dari guru-guru yang di undang khusus untuk menilai/berkomentar.
            Walau LISTUAL (Lingkar Studi Al-Qur’an) ini sebagai pengembangan diri, LISTUAL (Lingkar Studi Al-Qur’an) juga mengadakan bimbingan untuk keorganisasian, yang tentunya keorganisasian ini diberikan secara khusus pada waktu pembentukan stuktur keorganisasian dan juga ketika mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan PHBI (Perayaan Hari Besar Islam).
3.      Indikator Aktivitas Ekstrakurikuler Keagamaan.
Bertolak dari pengertian aktivitas ekstrakurikuler keagamaan LISTUAL (Lingkar Studi Al-Qur’an) dan Jenis aktivitas ekstrakurikuler keagamaan LISTUAL (Lingkar Studi Al-Qur’an) yaitu segala sesuatu kegiatan yang berhubungan dengan ibadah, maka indikator aktivitas kegiatan ekstrakulikuler keagamaan yaitu:
  1. Membaca
Membaca untuk keperluan belajar harus pula menggunakan set (Wasty Soemanto, 1998: 110). Membaca dengan set misalnya memulai denga  memperhatikan judul-judul bab, topik-topik utama dengan berorientasi kepada kebutuhan-kebutuhan dan tujuan. Kemudian memilih topik yang relepan dengan kebutuhan atau tujuan itu, tujuan kita untuk menentukan materi yang di pelajari.
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta di pergunakan oleh pembaca untuk memperorh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis mealui media kata-kata/bahasa tulisan. Adapun tujuan utama dalam membaca ialah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan.
            Membaca merupakan bentuk proses penafsiran terhadap lembaga-lembaga, simbol-simbol, baik berupa tulisan atau yang lainnya dengan melalui panca indra. Kemampuan membaca sangat dibutuhkan dalam proses belajar, hal ini merupakan pendorong terhadap keberhasilan belajarnya. Membaca untuk keperluan belajar hendaknya di lakukan secara seksama, karena hal ini akan menunjang tercapainya tujuan dari belajar. Aktivitas siswa dalam membaca, dalam kegiatan ekstrakurikuler merupakan faktor penentu berhasilnya belajar. Setiap siswa di tuntut untuk mampu membaca buku yang lainnya tentang keislaman untuk menambah wawasan dalam Pendidikan Agama Islam.
  1. Mendengarkan.
Dalam proses belajar mengajar di sekolah maupun di luar sekolah seiring pendidikan menyampaikan materinya dalam berbagai metode, salah satu metodenya adalah metode ceramah. Tugas sebagai pendidik adalah menyampaikan, dengan tugas peserta didik adalah mendengarkan ceramah. Begitu pula kegiatan di ekstrakurikuler keagamaan LISTUAL (Lingkar Studi Al-Qur’an) misalnya ceramah keagamaan dan diskusi. Tugas siswa adalah mendengarkan materi yang di sampaikan. Apabila hal mendengarkan mereka tidak di dorong kebutuhan, kemauan, motivasi dan tujuan tertentu, maka sia-sialah pekerjaan mereka. Tujuan belajar mereka tidak akan tercapai karna tidak adanya set-set yang tepat untuk beajar. (Abu Ahmadi, 1991:125).
            Mendengarkan adalah aktivitas yang menuntut adanya konsentrasi pada arus yang tercipta antara guru dengan siswa. Perlu di ciptakan kondisi yang menunjang pendengaran yang baik. Meksud mendengarkan di sini adalah kegiatan siswa dalam menyimak dan memahami penjelasan yang di sampaikan oleh nara sumber. Sehingga dengan mendengarkan, para siswa sudah dapat dikatakan aktif dalam proses kegiatan ekstrakurikuler keagamaan LISTUAL (Lingkar Studi Al-Qur’an).
b.      Mencatat/menulis
Menurut Wasty (1998: 109-110) bahwa tidak setiap aktivitas mencatat adalah belajar. Aktivitas mencata yang bersifat menurun, mejiplak atau mengkopi adalah tidak dapat dikatakan sebagai aktivitas belaljar. Menurut yang termasuk sebagai belajar yaitu apabila dalam mencatat itu orang menyadari kebutuhannya dan menggunakan set tertentu agar catatan itu nantinya berguna bagi pencapaian tujuan belajar. Mencatat menggunakan set tertentu akan di pergunakan sewaktu-waktu tanpa adanya kesulitan. Tanpa penggunaan set belajar, maka catatan yang kita buat tidak mencatat apa yang semestinya di catat. Materi yang kita catat sangat di tentukan oleh set-set belajar.
Dengan demikian menulis mempunyai peranan penting dalam proses kegiatan diskusi, ceramah agama yang diadakan di ekstrakurikuler keagamaan LISTUAL (Lingkar Studi Al-Qur’an). Karena dengan menulis dan mencatat ilmu yang tadinya tidak siswa miliki akan siswa miliki. Oleh karena itu dalam kegiatan diskusi atau pun ceranah agama siswa di tuntut untuk menuis dan mencata setiap ilmu yang di sampaikan dan di dengarnya.
  1. Mengingat/berfikir
Wasty Soemanto (1998:112) mengemukakan bahwa mengingat dengan maksud agar ingat tentang sesuatu, belum termasuk sebagai akivitas belajar. Mengingat yang didasari atas kebutuhan serta kesadaran untuk mencapai tujuan beajar lebih lanjut adalah termasuk aktivitas belajar apalagi jika mengingat itu berhubungan dengan aktivitas-aktivitas belajar lainnya.
Menurut Sumadi Suryabrata (1995:44) mengingat mempunyai tiga fungsi:
1)      Mencamkan, yaitu menerima kesan-kesan. Menurut terjadinya, mencamkan dapat dibedakan menjadi dua macam: (a) mencamkan yang berkehendak dan (b) mencamkan yang tidak berkehendak. Mencamkan yang tidak sekehndak atau tidak sengaja, artinya yang tidak dikehendaki, tidak disengaja, memperoleh sesuatu pengetahuan. Sedangkan mancamkan dengan sekehandak atau dengan sengaja artinya mencamkan dengan sengaja dan di kehendaki, dengan sadar sungguh-sungguh mencamkan sesuatu.
2)      Menyimpan kesan-kesan. Ingatan yang tidak mempunyai sifat-sifat: cepat sesuatu mudah mencamkan, setia, teguh, luas dalam menyimpan, dan siapatau sedia dalam memperoduksi kesan-kesan.
3)      Memperoduksikan kesan-kesan. Reproduksi adalah pengaktifan kembali hal-hal yang telah di camkan. Dalam reproduksi ada dua bentuk yaitu: (a) mengingat kembali (recal), dan (b) mengenal kembali (regocnition). Dalam mengingat kembai tak ada objek yang dapat dipakai sebagai tumpuan atau pegangan dalam melakukan reproduksi itu, sedangkan mengana kembali ada sesuatu yang dapat di pakai sebagai tumpuan dalam melakukan reproduksi sebagai objek untuk mencocokan.
Mengingat yang didasari atas kebutuhan serta kesadaran untuk mencapai tujuan belajar, apalagi jika mengingat berhubungan dengan aktivitas yang lainnya. Aktivitas mengingat dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler keagamaan LISTUAL (Lingkar Studi Al-Qur’an) yang dilakukan siswa SMP Negeri 2 Banjaran, adalah aktif mereka dalam menerima dan menyimpan materi pelajaran yang disampaikan oleh guru pembina.
  1. Latihan/praktek
Menurut Wasty Soemanto (1998:113) praktek termasuk aktivitas belajar. Orang yang berlatihan atau berpraktik sesuatu tentunya menggunakan set tertentu sehingga setiap gerakan itu tindakannya terarah kepada suatu tujuan. Dalam berlatih atau berpraktik terjadi interaksi yang interaktif antara subjek dengan lingkungannya. Adapun makna praktik disini pada cara pelaksanaan ibadah siswa di swkolah.
Dalam Al-Qur’an surat al-Mu’min ayat 60, terdapat pengertian ibadah dalam arti do’a, yang bunyinya:
¨bÎ) šúïÏ%©!$# tbrçŽÉ9õ3tGó¡o ô`tã ÎAyŠ$t6Ïã tbqè=äzôuy tL©èygy_ šúï̍Åz#yŠ ÇÏÉÈ  
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina". (Depag RI, 1989:707)

Adapun ibadah secara istilah (terminologis) adalah kepatuhan, ketundukan kepada Dzat yang memiliki puncak keagungan Tuhan Yang Maha Esa. Ibadah mencakup segala bentuk kegiatan (perbuatan dan perkataan) yang dilakukan oleh seiap mukmin muslim dengan tujuan untuk mencari keridaan Allah SWT. Dengan demikian setelah materi ibadah diberikan, siswa dapat mempraktikan di sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari.

B. Motivasi Belajar dalam Pendidikan Agama Islam.
1.      Pengertian Motivasi Belajr Pendidikan Agama Islam.
a.       pengertian motivasi Belajar.
            Menurut Oemar Hamalik (2002:173), motivasi adalah proses membangkitkan, mempertahankan dan mengontrol minat-minat. Istilah motivasi menunjuk kepada semua gejala yang terkandung dalam stimulas tindakan kearah tujuan tertentu dimana sebelumnya tidak ada gerakan kearah tujuan tersebut.
            Seorang ahli psikologi Mc Donald yang dikutip dari Wasty Soemanto (1982:2003), motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam diri atau pribadi seseorang yang ditAndai oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi dalam usaha untuk mencapai tujuan.
            Motivasi juga diartikan sebagai suatu kekuatan (power) atau tenaga (forces) atau daya (energy) atau sustu keadaan yang kompleks (a complex) dan kesiapsediaan (preparatory set) dalam diorio individu (organisme) untuk bergerak (to move, motion, motive) ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari (Abin Syamsudin, 2000: 37).selain itu Ujer Usman (1992: 28) mengungkmapakan bahwa motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
            Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi adalah sekumpulan usaha yang terdapat pada diri seseorang yang terdapat dorongan pada dirinya untuk melakukan sesuatu dalam memenuhi kebutuhannya dan untuk mencapai suatu tujuan.
            Menurut Gagne yang dikutip dari Ratna Wilis Dahar (1996: 11), belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Belajar juga mengandung pengertian terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku, termasuk juga perbaikan perilaku, misalnya pemuasan kebutuhan masyarakat dan pribadi secara lebih lengkap. Hilgard dan Brower  yang dikutip Oesman Hamalik (2002: 45) mengungkapakan bahwa belajar sebagai perubahan dalam perbuatan melalui aktivitas, praktek dan pengalaman.
            Muhibbin Syah (1995: 92), belajar diartikan sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai suatu hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
            Motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melaksanakan aktivitas belajar. Meningkatkan motivasi belajar pada siswa, dapat mempengaruhi keberhasilan belajarnya secara optimal (Abu Ahmadi, 1997: 109). Dengan demikian, motivasi belajar merupakan kondisi psikologis yang mendorong siswa untuk melakukan perubahan seluruh tingkah laku yang cenderung menetap sebagai hasil pengalaman dari interaksi dengan lingkungan. Jika siswa yang kurang termotivasi karena kurang memperhatikan yang disampaikan guru. Sebaliknya, jika siswa termotivasi untuk belajar, maka siswa akan memperhatikan yang disampaikan gurunya. Jelaslah bahwa motivasi sangat penting dalam belajar siswa.
b.      Pengertian Pendidikan Agama Islam.
Dalam penelitian ini pengertian pendidikan agama Islam sebagai bidang studi PAI. Ahmad Tafsir (1995: 3-7) menyatakan bahwa pendidikan agama Islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam. Dikutip dari Zuhaerini, dkk (1983: 27) “Pendidikan Agama Islam adalah segala usaha yang secara  sistematis dan pragmatis dalam membentuk anak didik agar hidup sesuai dengan ajaran agama Islam”.
Pengajaran agama dan pendidikan agama dalam pengertian sebenarnya memiliki perbedaan, walaupun terdapat hubungan yang erat. Pendidikan agama berarti usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar mereka hidup sesuai dengan ajaran agama Islam. Sedangkan ajaran agama berarti pemberian pengetahuan agama kepada anak agar mereka memiliki pengetahuan agama Islam.
Dengan demikian pembentukan pribadi muslim yang taat, berilmu dan beramal. Karena itu, penggunaan istilah pendidikan agama di sekolah-sekolah umumnya pasti akan menggunakan pengajaran agama sebagai alat. Sedangkan tujuannya tetap Pendidikan Agama Islam (Zuhaerini dkk, 1983: 27).
c.         Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam
Menurut Zuhairini yang dikutip Abdul Majid (2005: 132) dasar-dasar pendidikan Agama Islam dapat ditinjau dari dua segi, yaitu:
a.       Segi yuridis/hukum, yakni dasar pelaksanaan pendidikan agama yang berasal dari perundang-undangan yang secara tidak langsung dapat menjadi pegangan dalam pelaksanan pendidikan agama di sekolah secara formal. Dasar yuridis formal tersebut terdiri dari tiga macam, yaitu: 1) dasar ideal, yaitu dasar falsafah Negara Pancasila; 2) dasar struktural/konstitusional, yaitu UUD 45 dalam BAB XI pasal 29 ayat 1 dan 2; dan 3) dasar operasional, yaitu dasar dalam Tap. MPR No. IV/MPR/1973 yang kemudian dikokohkan dalam Tap. MPR No. IV MPR/1978. Ketetapan MPR No. II/MPR/1983, diperkuat oleh Tap. MPR No. II/MPR/1988 dan Tap. MPR No. II/MPR/1993 tentang GBHN
b.      Segi religius, yakni dasar yang bersumber dari ajaran Islam. Menurut ajaran Islam, Pendidikan agama adalah perintah dari Tuhan dan merupakan perwujudan ibadah kepada-Nya. Dalam Al-Quran banyak ayat-ayat yang menunjukan perintah tersebut, antara lain: 1) Q.S. An-Nahl ayat 125: ”Serulan manusia kepada Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik”; 2) Q.S. Ali-Imran ayat 104: ”Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar”; dan 3) Al-Hadist: ”Sampaikanlah ajaran kepada orang lain walaupun hanya sedikit”.
c.       Aspek psikologis, yakni dasar yang berhubungan dengan aspek kejiwaan dan kehidupan bermasyarakat. Hal ini didasarkan bahwa dalam kehidupannya, manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, dihadapkan pada hal-hal yang membuat hatinya tidak tenang dan tidak tentram sehinga memerlukan adanya pegangan hidup.
d.      Dasar Psikologis, dasar yang berhubungan dengan aspek kejiwaan kehidupan bermasyarakat. Zuhairini mengemukakan, “semua manusia dalam hidupnya di dunia ini selalu membutuhkan suatu pegangan hidup yang disebut agama”. Mereka yakin akan Dzat Yang Maha Kuasa sebagai tempat berlindung dan memohon pertolongan. Hal semacam ini terjadi pada masyarakat yang primitif maupun modern. Manusia akan selalu berusaha untuk mendekatkan diri pada Tuhannya, hanya saja caranya berbeda seuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Itulah sebab pendidikan agam Islam harus dapat menggairahkan fitrah mereka kearah yang lebih baik, tanpa adanya pendidikan agama dari generasi ke generasi berikutnya, maka orang akan semakin jauh dari ajaran agama yang benar.

d.        Tujuan Pendidikan Agama Islam
Menurut Hasan Langgulung yang dikutip dari Abuddin Nata (2005: 98), tujuan-tujuan pendidikan agama harus mampu mengakomodasikan tiga fungsi utama dari agama, yaitu:
1.      Fungsi spritual yang berkaitan dengan akidah dan iman
2.      Fungsi psikologis yang berkaitan dengan tingkan laku individual termask nilai-nilai akidah yang mengangkat derajat manusia ke derajat yang lebih sempurna
3.      Fungsi sosial yang berkaitan dengan aturan-aturan yang menghubungkan manusia dengan manusia lain atau masyarakat, dimana masing-masing mansia diberi hak-hak dan tanggung jawabnya untuk menyusun masyarakat yang harmonis dan seimbang.
Dengan demikian tujuan pendidikan agama Islam mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Mengarahkan manusia agar menjadi khalifah Tuhan di muka bumi denghan sebaik-baiknya, yaitu melaksanakan tugas-tugas memakmurkan dan mengolah bumi sesuai dengan kehendak Tuhan.
2.      Mengarahkan manusia agar seluruh tugas kekhalifahannya di muka bumi dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada Allah, sehingga tugas tersebut terasa ringan dilaksanakan.
3.      Mengarahkan manuisia agar barakhlak mulia, sehingga ia tidak menyalahkangunakan fungsi kekhalifahannya.
4.      Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmaninya, sehingga ia memiliki ilmu akhlak dan keterampilan yang semua ini dapat digunakan guna mendukung tugas pengabdian dan kekhalifahannya.
5.      Mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat (Abudin Nata, 2005: 106).
Tujuan Pendidikan Agama Islam pada lembaga-lembaga pendidikan formal di Indonesia mempunyai tujuan-tujuan yang paralel dengan tujuan pendidikan nasional, juga paralel dengan tujuan institusional sesuai dengan tingkatan dan jengjang dari sekolah mulai dari tingkat dasar sampai pergururan tinggi. Tujuan Pendidikan Agama Islam pada lembaga–lembaga pendidikan formal yang ada di Indonesia dapat dibagi menjadi tujuan umum dan tujuan khusus.
Tujuan umum Pendidikan Agama Islam adalah membimbing anak didik agar mereka menjadi muslim sejati, beriman teguh, beramal shaleh, serta berahklak mulia yang berguna bagi masyarakat, agama dan negara (Zuhairini dkk, 1983: 45).
Sementara itu menurut Nur Uhbiyati (1999: 56), tujuan umum yang dikenal pula dengan tujuan akhir adalah pembentukan pribadi kekhalifahan bagi anak didik yang mempunyai fitrah, roh di samping badan, kemauan yang bebas dan akal. Dengan kata lain tugas pendidikan adalah mengembangkan keempat aspek ini pada manusia agar ia dapat menempati kedudukan sebagai khalifah.
Adapun tujuan khusus Pendidikan Agama Islam, menurut Mohammad al-Toumy al-Syaibani yang dikutip oleh Abuddin Nata (2005: 107) adalah:
a)    Tujuan yang berkaitan dengan individu yang mencakup perubahan berupa pengetahuan, tingkah laku, jasmani dan rohani dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat.
b)   Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat yang mencakup tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, serta memperkaya pengalaman masyarakat.
c)    Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, seni, profesi, dan kegiatan masyarakat.

Zuharini, dkk (1983: 47) mengungkapkan tujuan khusus pendidikan agama Islam untuk tingkat sekolah lanjutan pertama adalah sebagai berikut: memberikan ilmu pengetahuan Agam Islam; memberikan pengetahuan tentang Agama Islam yang sesuai dengan tingkat kecerdasannya; memupuk jiwa Agama; dan membingbing anak agar mereka beramal shaleh dan berakhlak mulia.
e.   Kurikulum Pendidikan Agama Islam
            Tujuan-tujuan pendidikan Agama Islam disusun ke dalam kurikulum sebagai acuan untuk mencapai tujuan, menurut Zuhairini dkk (1983: 64), faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan kurikulum pendidikan agama Islam adalah:
1) Faktor pedagogis; 2) Faktor psychologisl; 3) Faktor sosiologis dan kulturil; serta 4) Faktor politis. 
            Sementara itu menurut Mohammad al-Toumi al-Syaibany yang dikutip oleh Abuddin Nata (2005: 107) ciri-ciri kurikulum pendidikan agama Islam adalah:
1)   Menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuannya, kandungan, metode, alat dan tekniknya bercorak agama.
2)   Meluas cakupannya dan menyeluruh kandungannya, yaitu kurikulum yang betul-betul mencerminkansemangat, pemikiran, dan ajaran yang menyeluruh. Di samping itu, ia juga luas dalam perhatiannya. Ia memperhatikan bimbingan dan pengembangan terhadap segala aspek pribadi pelajar dari segi intelektual, psikologis dan spritual.
3)   Bersikap seimbangan diantara berbagai ilmu yang dikandung dala kurikulum yang berguna bagi pengembangan individual dan pengembangan sosial.
4)   Bersikap menyeluruh dalam menata seluruh mata pelajaran yang diperlukan oleh anak didik.
5)   Kurikulum yang disusun selalu disesuaikan dengan minat dan bakat anak didik.

f.    Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
   Ruang lingkup kependidikan Islam adalah mencakup segala bidang kehidupan manusia di dunia dimana manusia mampu memanfaatkan sebagai tempat menanam benih-benih amaliyah yang buahnya akandiptik di akhirat nanti, maka pembentukan sikap dan nilai-nilai amaliyah dalam pribadi manusia baru dapat efektif bilamana dilakukan melalui proses kependidikan yang berjkalan di atas kaidah-kaidah ilmu pengetahuan kependidikan (Uhbiyat dan Ahmadi, 1997: 23).
   Ruang lingkup pendidikan agama Islam meliputi keyakinan, budi pekerti, ibadah, dan amalan dalam pergaulan hidup baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, sedangkan khususnya untuk tingkat SMP adalah:
1)   Memperluas materi tingkat SD melalui penganalisaan dan keterangan-keterangan logis
2)   Mengenal sifat-sifat Tuhan yang menuju ketentraman batin anak-anak
3)   Menggerakan aktivitas kehidupan agama dalam masyarakat
4)   Mengenalkan hukum-hukum dan peraturan agama yang langsung berhubungan dengan tingkat umurnya
5)   Memberikan pengertian lebih lanjut tentang kitab suci dan sumber-sumber hukum lainnya yang dapat diaplikasikan dalam hidupya
6)   Sejarah dan perkembangan agama dan penyiar-penyiarnya
7)   Mengenal bahasa agama (zuhairini dkk, 1983: 66).
2.      Indikator Motivasi Belajar Pendidikan Islam.
Motivasi sebagai penomena psikologis adalah hal yang abstrak. Artinya motivasi belajar seseorang dapat diamati secara langsung. Motivasi belajar hanya dapat diteliti melalui gejala yang nampak, yang menunjukan tingkat kuaitatip motivasi seseorang. Namun demikian para psikolog telah berhasil merumuskan teknik peneitian fenomena-fenomena psikologis manusia tersebut, termasuk penelitian motivasi.
            Abin Syamsudin (1999:30) mengidentifikasikan ada deapan indikator dalam mengukur motivasi, sebagai berikut:
a.         Durasi Kegiatan
Penggunaan waktu secara efektif dan efesien daam kegiatan belajar mengajar sangat di perlukan untuk meningkatkan kemampuan dalam belajar, sehingga dapat memberikan nilai positif terhadap peningkatan kreatipitas belajarnya.kemempuan siswa dalam menggunakan waktu belajar akan didorong dengan adanya kebutuhan, dan kemepuan kebutuhan akan akan ilmu pengetahuan ditentukan oleh tinggi rendahnya motivasi yang dimiliki oleh para siswa.
b.        Frekuensi Kegiatan.
Tinggi rendahnya motivasi belajar siswa pada dasarnya dapat dilihat dari frekwensi dalam melakukan kegiatan dalam hal ajarnnya yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. Frekwensi kegiatan yang dimakasud disini adalah kemampuan siswa menggunakan waktu untuk kegiatan belajar. Ini berarti siswa yang memiliki motivasi akan melakukan sebagian besar waktunya untuk kegiatan belajar.
c.         Persistensi pada Tujuan.
Bagi siswa yang mengetahui dan memahami tujuan belajar serta menjadikannya sebagai motivasi untuk memperoleh perstasi yang setinggi-tingginya akan tampak bergairah dan bersamangat dalam belajarnya. Sebaiknya bagi siswa tidak mengetahui tujuan belajar dan tidak menjadikannya motivasi akan nampak kurang bergairah dalam belajarnya.
d.        Ketabahan, Keuletan dan Kemampuannya.
Dengan menumbuhkan kesadaran pada diri siswa bahwa setiap usaha pencapaian prestasi dan tujuan belajar dan yang setinggi-tingginya, akan selalu menghadapi masalah dan kesuitan yang merupakan tantangan yang harus dihadapi. Dalam hal ini siswa di tuntut untuk bekerja keras demi tercapainya prestasi blajar yang diharapkannya. Bagi siswa yang memiliki motivasi, masalah dan kesulitan beajar akan dijadikan sebagai tantangan, sehingga dituntut untuk bekerja keras dalam pencapaian prestasi belajar yang optimal. Sebailknya bagi siswa yang tidak memiliki motivasi, masalah dan kasulitan sering mengakibatkan kemalasan untuk belajar.


e.         Devosi (Pengabdian) dan Pengorbanan.
Usaha untuk meraih prestasi belajar yang optimal, memerlukan ketentuan dan pengorbanan, sebagai aspek tenaga, waktu, pikiran, keuangan dan lain-lain. Dengan memiiliki motrivasi belajar para siswa akan bersemangat dan bergairah untuk melakukan serangkaian kegiatan belajar.
f.         Tingkatkan Aspirasinya
Tingkat aspirasi siswa siswa yang belajar baik yang berkenaan dengan maksud, rencana, cita-cita dan sasaran yang hendak dicapai dalam kegiatan belajar mengajar adalah dasar bagi pencapaian bekajar yang optimal. Siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi untuk mencapai hasil belajarnya akan didasarkan pada kebutuhannya, sehingga dalam belajar akan bersungguh-sungguh dan bertumpu pada tujuan yang ingin dicapainya.
g.        Tingkat Kualifikasi Prestasi
Tingkat kualifikasi dan prestasi siswa akan diperoleh ketika siswa memasuki lapangan pendidikan sekoah, ketika mengikuti proses belajar mengajar, dan ketika siswa menyelesaikan belajarnya pada lembaga sekolah tersebut. Tingkatan kualifaikasi dan persentasi belajar siswa berkaitan dengan hasil atau out put yang diperoleh siswa dalam proses belajr mengajar, yang memiliki kualitas/kuantitas hasi belajarnya, memberikan kepuasan atau tidak setara dengan memadai atau tidaknya fasilitas belajar yang disediakan.
h.        Arah Sikapnya.
Arah sikap siswa terhadap kegiatan belajar mengajar ditentukan oleh kevaliditasan sasaran yang berhak dicapai sesuai dengan kemampuan dengan kemampuan dan kebutuhan yang diharapkan oleh siswa. Setiap siswa terhadap kegiatan belajar merupakan reaksi yang terhadap sasaran atau tujuan kegiatan belajar yang hendak di capai siswa secara sadar akan tergantung pada ragsangan yang dihadapinya dalam situasi belajar. Sikap siswa tersebut dapat bersifat positip dan bisa pula bersifat negatif. Sikap positifnya akan melahirkan tindakan menyenangi pelajaran, sedangkan sikap negatifnya akan membenci atau akan menghindari bahan pelajaran sehingga motivasi belajarnya tidak optimal.
3.    Faktor yang Mempengauhi Motivasi Belajar
Secara umum, faktor yang mempengaruhi motivasi belajar Sumadi Suryabrata (1993: 72). Menyebutnya “jalaran motivasi”  dibagi dua, yaitu faktor dari dalam dan dari luar. Faktor yang datang dari dalam disebut motivasi intrinsik dan Faktor dari luar disebut dengan motivasi ekstrinsik. Siswa didorong oleh motivasi intrinsik jika siswa belajar untuk lebih sanggup mengatasi kesuitan hidup, memperoleh pengertian, pengetahuan, penguasaan, sikap hidup yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari. Dalam belajar telah terkandung tujuan memperoleh atau menambah pengetahuan. Lain halnya jika siswa belajar untuk mencari penghargaan berupa angka-angka atau predikat tertentu, ia didorong oleh motivasi ekstrinsik. Hal ini karena tujuan-tujuan itu bukan hal yang seharusnya dan luar tujuan perbuatan itu yang sebenarnya S. Nasution (1986: 80). Menyebutnya sebagai “the goad is artificially introduced”.
a.       Motivasi Intrinsik
Mortivasi intrinsik dipandang sebagai motivasi yang berasal dari dalam diri tanpa ada paksaan dan dorongan dari pihak luar. Motivasi ini muncul atas kemauan sendiri dan dapat mendorongnya melakukan serangkaian kegiatan belajar. Muhibbin Syah (137:1995) mengemukakan, bahwa motivasi intrinsik siswa dalam hal belajar adalah perasaan menyenangi materi dan kebutuhan terhadap materi tersebut, untuk kebutuhan masa depan siswa. Maka ketika siswa sudah menyenangi pelajaran tersebut akan termotivasi untuk terus mempelajarinya.
b.      Motivasi Ekstrinsik.
Motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang timbul akibat pengaruh dari luar individu yang mendorongnya untuk melakukan serangkaian kegiatan belajar. Misalnya dengan memberikan pujian dan hadiah, tata tertib sekolah, keteladanan dari orang tua, guru dan lain sebagainya. Dengan adanya pengaruh dari luar tersebut, maka setip individu akan terpacu mitivasi belajarnya, meski perangsangan dari luar tersebut tidak berkaitan secara langsung dengan aktivitas belajar. Dengan demikian kekurangan atau ketiadaan motivasi, baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik akan meyebabkan kurangnya atau tiadanya semangat untuk melakukan serangkaian aktivitas belajar pada diri seseorang.
C.    Hubungan antara Aktivias Siswa pada Kegiatan Ekstrakurikuler Keagamaan dengan Moticasi Mereka pada mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam.
            Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa aktivitas merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi belajar mengajar. Aktivitas tersebut merupakan suatu kegiatan yang mengarahkan pada pencapaian prestasi siswa termasuk di dalamnya aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan pengembangan diri LISTUAL (Lingkar Studi Al-qur’an) di SMP Negeri 2 Bamjaran. Tidak mungkin seorang siswa mendapatkan prestasi yang optimal tanpa adanya proses belajar mengajar.
            Aktivitas pada dasarnya adalah kegiatan yang dilakukan oleh individu dengan melibatkan keseluruhan aspek fisik (jasmani) dan pisik (mental). Kegiatan kedua aspek tersebut sangat penting dalam menentukan alternatif tindakan yang akan dipilih unuk mencapai tujuan yang di cita-citakan. Akivitas siswa disekolah tidak hanya terbatas dalam kegiatan belajar mengajar di kelas saja, tetapi bisa saja dengan mengikuti kegiatan diluar jam pelajaran atau kegiatan yang diadakan oleh sekolah itu sendiri yang penulis ungkapkan disini ialah kegiatan LISTUAL (Lingkar Studi Al-Qur’an) di SMP Negeri 2 Banjaran.
            Aktivitas LISTUAL (Lingkar Studi Al-Quran) di SMP Negeri 2 Banjaran adalah segala bentuk kegiatan yang dilakukan siswa dalam upaya memperdalam pemahaman ajaran Agama Islam. Aktivitas tersebut sangat menunjang terhadap pelajaran agama yang dipelajari dalam kelas karena materi yang diterima oleh mereka dari kedua kegiatan tersebut adalah materi yang sama, yaitu pengetahuan agama Islam.
            Segenap aktivitas yang dilakukan siswa merupakan perwujudan dari motivasi yang ada dalam dirinya untuk mencapai tujuan yang di cita-citakan yaitu prestasi belajar yang tinggi. Prestasi belajar yang tinggi akan tercapai jika siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi dan dengan aktivitas belajar secara optimal, di samping faktor-faktor lain yang mempengaruhinya, baik faktor intren  maupun faktor ekstren.
            Dengan demikian berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa antara aktivitas siswa menjadi hubungan sebab akibat dengan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Begitupula dengan kegiatan ekstrakurikuler LISTUAL (Lingkar Studi Al-Qur’an) di SMP Negeri 2 Banjaran yang bertujuan untuk bisa berfikir kritis dan menambah pengetahuan Agama Islam. Bisa menjadi penunjang dari prestasi siswa yang menjadi lebih baik untuk berbagai mata peajaran terutama mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
            LISTUAL (Lingkar Studi Al-Qur’an) di SMP Negeri 2 Banjaran juga sebagai sarana atau alat untuk mengembangkan wawasan pengetahuan siswa serta peningkatan prestasi belajar mereka di sekolah. Namun untuk mengatahui tentang tinggi atau rendahnya tingkat hubungan antara dua varyabel di atas, yaitu antara  varyabel aktivitas dengan varyabel motivasai belajar mereka pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Akan dibahas pada bab berikunya.

1 komentar:

  1. Halo mas bro,
    ap kbar?
    btw boleh minta file skrip[sinya gak???Please..Tq :D

    BalasHapus